Senin, 16 Juli 2012

Diary B #01 "AWAL PERJUANGAN"

            Yeah lega banget pas aku nyelesain unek-enek ini di sebuah catatan yang aku namain "Diary B". Inisial B sebenernya bukan karena nama aku bowo melainkan julukan teman-teman ke aku yaitu Brewok yang berarti orang yang pipinya ditumbuhin bulu-bulu halus tapi bukan itu sebenarnya yang membuat mereka memanggil ku seperti itu namun karena ada sebuah tanda hitam di pipi sebelah kiriku. Sebuah tanda hitam yang muncul tiba-tiba saat aku berada di kelas 6. Yah emang sesuatu yang tidak diinginkan , tapi tak apalah ini juga harus disyukuri karena ini juga pemberian Allah. Walaupun sering menjadi bahan ejekan itu tidak membuatku berkecil hati apalagi sampai harus ngambek ga mau bergaul sama temen-temen sebaya, "enggak gue banget " karena buat aku teman adalah segalanya. Dengan memiliki seorang teman aku bisa merasakan sebuah arti hidup.
            Arti hidup untuk apa diriku di dunia ini, tentu saja selain beribadah kepada Allah , itu ma wajib. Banyak hal yang ku ingin lakukan, banyak hal yang harus kucapai dan tentu saja banyak hal yang harus kuperjuangkan untuk semua itu.
            Dan inilah perjuanganku untuk hal sebuah kehidupan yang sedang aku coba usahakan agar aku dapat mencapai semua yang aku inginkan dengan merencakan pendidikan apa yang harus aku tempuh dan di mana aku memperolehnya. Ya memang menyebalkan ketika seorang anak seumuranku harus memikirkan hal seperti ini. Mencoba mengusahakan semuanya dengan usahanya sendiri walaupun terkadang memaksakan dirinya.
            Jauh sebelum pengunguman Kelulusan SMP, aku memang sudah banyak mencari informasi tentang beberapa sekolah favorit di daerah Semarang. Namun pada akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikanku ke sebuah STM ternama di Kota Semarang. "STM PEMBANGUNAN SEMARANG" adalah tujuan baru dalam hidupku yang harus kucapai agar aku dapat meraih apa yang aku inginkan dalam hidupku ini menjadi orang yang sukses. Yeah menjadi orang yang sukses dalam berbagai hal. Memag bukan sebuah mimpi yang mudah dicapai namun aku harus mencoba dan mencapainya.
            Banyak kejadian buruk pada waktu kelas 9 namun itu bukanlah yang menciutkan niatku untuk mencapai batu pijkan pertama menjadi orang sukses. Dan hari kelulusanpun tiba, dimana semua anak COURSA ( Community Rakyat Sembilan A ) dipanggil oleh Bu Rini Wali Kelas 9A untuk menerima amplop kelulusan kami. Deg-degan ? pastilah ini sesuatu yang menentukan nasib pendidikan ku nanti apakah aku lulus dengan baik atau tidak. Tiba giliranku maju ke depan untuk mengambil amplop kelulusan ,perasaan takut dan khawatir mulai datang ketika Bu Rini tersenyum sambil mengulurkan amplop kepadaku dan berkata selamat ya "Mam" , jangan heran aku dipanggil Imam karena waktu itu yang namanya Ahmad Imam cuma 1 di kelasku jadi dipanggil Imam. Weits kok melencong dari cerita sebelumnya. Mari kita lanjutkan , Perasaan senang muncul tiba-tiba ketika Bu Rini mengucapkan selamat kepadku ini pertanda aku lulus, tinggal menengok hasil dari kerja kerasku waktu UAN kemarin. Lalu kutinggalkan ruangan kelas dan berjalan ke arah teman-temanku yang sudah keluar sebelumnya.
            Di tempat itu, ku buka amplop yang kupegang. Dan raut muka bahagiapun muncul saat kulihat nilaiku cukup memuaskan untuk sebuah kerja keras yang aku lakukan. Dengan nilai jumlah nilai akhir 32,50 untuk 4 mata pelajaran, aku rasa adalah modal pertamaku nanti untuk mendaftar di STM PEMBANGUNAN SEMARANG.
            "Hey Mam , Gimana hasil kamu ?" dengan wajah cantiknya Amaliya bertanya kepadaku " Bagus nie , Kalau kamu ?", "Em lumayan lah" sahutnya," Oh ya setelah ini kamu mau lanjut ke mana Liya ?" , "Deket-deket aja soalnya ibuku ngelarang aku buat sekolah jauh-jauh!" dengan nada sedikit kecewa, "Em ya udah syukurin aja karena orang tua kamu udah mau nyekolahin kamu hehehehhehe " " iya " jawabnya. Dan itu adalah hari yang membahagiakan untukku, sebuah hari yang patut untuk dikenanng.
            Haripun berganti dan hari ini adalah hari pertama Pendaftaran Siswa Baru STM PEMBANGUNAN SEMARANG. Akupun bersiap-siap untuk pergi ke Semarang. Ku siapkan semua syarat-syarat pendaftaran yang sudah aku baca dan tak lupa aku masukkan berkas pendaftaran online yang baru saja kemarin aku print out.
           Jam 10.00 pagi, Aku bersama Trisno seorang teman waktu SD berangkat bersama kedua orang tuanya ke Semarang. Di tengah perjalanan kami berhenti di sebuah SMA Favorit di Ungaran, Trisno dan ayahnya keluar dari mobil dan berjalan menuju SMA itu. Beberapa menit kemudian mereka kembali dan mengabarkan pada Ibunya bahwa dia diterima di SMA itu. Namun dia tetap ingin mendaftar di STM PEMBANGUNAN, Ayah dan ibunya pun hanya bisa menuruti permintaan anak terakhir mereka. 1 jam kemudian kami tiba di STM PEMBANGUNAN, kami terkejut ketika melihat antrian pendaftaran yang panjang dari Aula besar padahal hari sudah siang.
           Setelah menunggu antrian yang lama kami pun mendapatkan formulir pendaftaran. Di formulir terebut dikatakan kami harus melewati 2 tes yaitu kesehatan dan jasmani. Kami pun bergegas untuk mengikuti tes kesehatan namun sayang sekali no antrian sudah habis dan kami harus kembali besok untuk melakukannya. Karena tak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada kami segera ke tempat tes jasmani. Disana pun keadaannya sama tumpukan berkas formulir pendaftaran sudah banyak. Namun kami tak akan menyerah, dan alhasil hari ini kami pulang sore. Capek memang namun kebahagian karena pada tes jasmani kami lulus menghilangkan semua lelah yang ada. Dan di saat perjalan pulang kami tertidur sampai di rumah.
          Hari kedua pendaftaran, hari ini aku memutuskan untuk berangkat sendiri karena aku pikir aku tak boleh merepotkan orang lain terus menerus. Hari ini Ibu menyewakan seorang tukang ojek untuk mengantar ku ke Semarang. Pukul 07.00 aku berangkat, sesampainya di STM aku segera mengambil nomor antrian untuk tes kesehatan dan di tempat itu aku juga bertemu Trisno. Kami mengobrol dan di tengah obrolan kami, suara handphoneku berbunyi. Ternyata ada sebuah SMS dari Ipin seorang teman kelas 9A yang juga mendaftar di STM PEMBANGUNAN. Di pesan itu dia bertanya " kamu dimana ? mau berangkat jam berapa di perpisahan kelas 9A ?" "Loh sekarang ta ? la aku lagi tes kesehatan di STM ? " balasku " iya , jam 9 nanti." " Kalau gitu aku enggak ikut masih harus nunggu lama soalnya" "Oke , sukses ya makane hari pertama berangkat pagi biar cepet selesai hahahahahhaaha " " okek , thank you , titip salam buat temen-temen terutama buat Amaliya". Perasaan kecewa pun mulai datang saat penantian tes kesahatan karena  hari ini aku tidak bisa ikut perpisahan bersama teman-teman 9A. Apalagi tidak bisa bertemu dia untuk terakhir kalinya sebelum perpisahan yang akan lama ini. Namun perasaan kecewa itu pun mulai hilang saat aku yakin ini mungkin sebuah pengorbanan untuk bisa menjadi sukses. Hari kedua pun usai dengan hasil aku lulus dari tes kesehatan.
              Hari ketiga aku bersama Pamanku menunggu untuk wawancara biaya pendidikanku nanti. Ketika berkasku di panggil dengan segera Pamanku ke tempat wawancara. Dan tak beberapa lama kemudian dia keluar dengan perasaan tegang. Wah " Mam uang gedungnya Paman cuma bisa nawar sampai 6 juta." " Enggak apa-apa kok masalah biaya nanti bisa dicari yang terpenting aku bisa sekolah disini.". Setelah wawancara selesai kami pun bergegas ke ruang aula untuk mengumpulkan berkasku dan menggantinya dengan no peserta tes psikotes. Dan setelah ku dapatkan No kartu tes psikotes , aku dan Paman segera pulang.
             Dan dalam perjalanan tersebut Paman masih khawatir dengan biaya uang gedung yang dia ajukan. Dia takut jika itu akan memberatkan keluargaku, dan beberapa kali ku yakinkan dia bahwa itu tidak apa, itu sangat wajar apalagi STM PEMBANGUAN adalah sekolah 4 tahun yang pastilah membutuhkan biaya yang besar.
              Dan sesampainya di rumah aku segera memberitahu ibuku tentang hal itu dan ibuku pun menanggapinya dengan biasa. Dan hari itu aku habiskan waktuku pergi bermain ke rumah Trisno, sesampainya di rumahnya. Kulihat tidak ada seorang pun disana lalu aku pulang dan ketika meliwati rumah salah seorang teman desa aku melihat Trisno disana. Segera kuhampiri dia dan bertanya " Gimana Tris kamu udah ngumpulin berkas kamu ?" tanyaku " Wah aku enggak jadi ke STM , aku di SMA." " Loh kenapa ?" tanyaku terheran-heran padahal ku tahu dia sangat ingin sekolah di STM, " Aku takut nem ku enggak nyampai di sana lagian aku juga udah diterima di SMA." jawabnya " Oh ya udah.". Dan saat perjalan pulang aku pun ters kepikiran dengan apa yang Trisno bilang ke aku. Bagaimana tidak , Nem Trisno dan aku sama , kami sama-sama mempunyai nem sekitar 32 dan memilih jurusan yang sama pula.
             Namun dengan hati yang penuh semangat aku terus menyemati diriku bahwa aku pasti bisa masuk ke STM PEMBANGUNAN , aku pasti bisa melewati tes itu dan aku pasti berhasil. Satu hari sebelum tes Ipin memberitahuku agar aku menukar kartu no peserta yang diberikan oleh panitia kemarin dengan kartu tes psikotes yang telah disediakan oleh Panitia pendaftaran dan saat itupun juga aku segera berangkat ke Semarang dan kali ini aku bersama seorang kawan bernama Surya, dia juga teman SMPku dan dia juga mendaftar di STM PEMBANGUNAN. Dengan sepeda motorku aku berangkat dari rumah pukul 9 pagi dan tiba disana pukul 10. Sesampainya disana kulihat Ipin yang ternyata sudah mendapatkan kartu tesnya. Dan dia berpamitan kepada kami untuk pulang.
           Setelah menunggu beberapa jam tiba-tiba kudengar " Ahmad Imam.............." dan ku berdiri tapi sebelum sempat kulangkahkan kaki ini terdengar lagi " Ahmad Imam Nugraha". Dengan segera aku duduk kembali dan menahan malu ketika mendengar Surya menertawakanku dan dalam hati aku pun bepikir bagaimana bisa di dunia ini ada orang yang nama depannya sama denganku , cuma bedanya aku Wibowo dan dia Nugraha. Dan setelah sekian lama menunggu akhirnya namaku disebut dengan lengkap dan akupun segera lari ke meja panitia untuk menukarkan kartu tes. Dan tak beberapa lama kulihat Surya menyusul dan berada disebelah mejaku. Setelah kami berdua mendapatkan kartu tes kami pun memutuskan untuk segera pulang untuk mengisirahatkan badan dan pikiran untuk Tes Psikotes esok harinya.
           Pagi ini sungguh mendebarkan, ketika menunggu detik-detik saat Tes yang akan segera di mulai. Kurasakan jantung terus berdebar kencang namun sesekali ku tarik nafas panjang untuk memperlambat detak jantung itu dan yakinkan aku bisa melewati Tes tersebut. Berapa detik setelah bel berbunyi, Pengawas Tes mulai menyuruh kami untuk membalik soal yang sudah tersedia dan mengerjakannya dengan waktu 30 menit untuk Matematika dan Fisika. Kukerjakan semua soal itu dengan semampuku dan ketika kusadari waktu telah habis, hanya tinggal 2 soal yang belum terisi. Dan kuputuskan untuk tidak mengerjakannya karena aku takut jika aku mengarang jawabannya dan salah , bisa mengurangi nilai yang bisa aku kerjakan.
         Setelah semua terkumpul , segera pengawas membagikan kepada kami sebuah lembar kertas dan buku soal psikotes. Ketika pengawas melihat semua peserta tes telah mendapatkan itu, segera dia memberi kami perintah untuk mengerjakannya. Setelah ku baca beberapa soal yang ada, ternyata sama dengan soal psikotes yang pernah aku kerjakan dulu ketika SMP dan dengan yakin kukerjakan semua soal itu. Saat semua sudah selesai mengerjakan dan dikumpulkan. Pengawas membagikan 1 lembar kertas HVS yang bergambar beberapa 8 kotak dan di dalamnua ada garis , titik , dll dan 2 lembar kertas gambar yang masih kosong.
         Pada kertas HVS, pengawas memerintahkan kepada kami untuk meneruskan titik atau garis tersebut menjadi sebuah sebuah gambar benda sesuai imajinasi kami. Sedangkan untuk kedua kertas gambar yang masih kosong tadi kami harus mengambar sebuah pohon dan manusia.
        Dan saat semua gambar sudah kuselesaikan, ku istirahatakan diriku di kursi sambil nunggu temen-temen yang lain masih sibuk sama gambarnya. Dan saat pengawas mengumpulkan semua gambar kami. Dia pun memberi waktu kepada kami untuk mengistirahat pikiran kami beberapa menit agar pikiran kami fresh kembali untuk tes yang terakhir yang kami masih belum tahu apa itu. Setelah beberapa menit itu selesai, pengawas kembali memberikan kami sebuah kertas yang berisikan angka-angka. Dan Pengawas pun menjelaskan kepada kami, untuk menjumlahkan angka-angka itu secara vertikal dari bawah ke atas. Dan menuliskan hasil penjumlahan terebut di samping antara angka pertama dan kedua. Dan kami hanya memiliki waktu 30 detik untuk setiap kolom angka dan kami harus ganti kolom setiap pengawas bilang ganti. Setelah pengawas memastikan semua peserta mengerti. Pengawas pun memulai memerintahkan kami untuk mengerjakan tes tersebut dan setiap 30 detik pengawas slalu bilang ganti hingga kolom terakhir. Dan es hari itu selesai juga dengan perasaan lega dan yakin bahwa aku akan masuk ke dalam daftar 540 murid baru STEMBA (STM PEMBANGUNAN , kenapa enggak aku singkat dari dulu ya , hmmmmmmmmmmm).
       Dan beberapa hari kemudian, pengunguman hasil seleksi penerimaan siswa baru STEMBA tahun 2009/2010 akan diumumkan pukul 8 pagi. Aku pun bersiap-siap untuk ke Semarang untuk melihat hasil apa yang telah aku usahakan semaksimalku. Pukul 7 pagi , tiba-tiba Ipin menelponku dengan nada bahagia dia mengatakan "Wok, kita lolos , kita masuk STEMBA." dan seketika itu aku bahagia, aku sangat bahagia dan berkata " Alhamdulillah Ya Allah, Atas anugrah yang telah Engkau beriikan kepada hamba." dan aku pun mengucapakan terima kasih kepada Ipin dan mengabarinya bahwa aku akan berangkat ke Semarang. Dan segera aku menutup telpon dan bersama Ayah,aku berangkat ke Semarang. Setibanya di sana aku mencari Ipin dan bertanya bagaimana dengan teman-teman yang lain, dia mengatakan kalau Fredy , Iksan dan Tachul juga lolos namun ketika aku bertanya bagaimana dengan Surya. Dengan lesu dia mengatakan bahwa Surya tidak lolos.
           Dia juga sudah memberitahu Surya akan hal itu agar Surya dapat mencari sekolah yang lain. Setelah itu kami pun bergegas ke tempat panitia pendaftaran ulang untuk siswa yang lolos. Kami mengambil berkas yang harus kami lengkapi dan beberapa persyaratan administrasi yang harus kami bayar. Dan setelah mendapatkan berkas itu , kami pulang.
          Sesampainya di rumah aku segera melengkapai berkas tersebut. Namun ketika melihat biaya yang harus orang tuaku bayarkan aku sedikit bingung dengan keadaan keuangan kami yang memburuk belakangan ini karena masalah yang sedang dihadapi oleh Ayah sehingga Ayah harus bekerja keras untuk mengembalikan keadaan keuangan kami menjadi lebih baik lagi. Sehingga itulah yang menjadi alasan kenapa bukan Ayah yang mendampingiku ketika aku mendaftar sekolah , melakukan wawancara orang tua dan tes. Namun itu tidak membuatku membencinya, aku bangga kepadanya karena Ayah berjuang demi keluarganya agar keluarganya hidup dengan layak. Ayah dan Ibu memang dua orang yang menginspirasiku agar menjadi orang yang berjuang keras dan tekun untuk menggapai cita-citaku. Dan untukku mereka aku akan berjuang keras untuk menjadi orang sukses , agar bisa membahagiakan mereka di hari tua mereka. Dan tak kusadari air mata mulai menetes jika meningat hal itu.
             Tiba-tiba pintu kamarpun terbuka , dan kulihata Ibu datang membawakanku secangkir teh. " Ini tehnya, diminum selagi hangat ( meletakkan di meja) , oh ya bagaimana dengan berkas-berkas pendaftarannya, sudah kamu lengkapi" tanya ibuku ," sudah semua Bu " jawabku ," Terus apa yang kurang ?" tanyanya lagi , " Tinggal mengurus biaya administrasi Bu. Seperti Uang gedung ,SPP dan lain-lainnya." " Lalu berapa jumlahnya?"tanyanya lagi " Uang gedungnya 6 Juta sedangkan SPP 135 ribu dan untuk biaya seragama dan lain lain sekitar 540 ribu." " Oh ya sudah nanti Ibu bilang ke Ayah, biar ayah mencarikannya." " Tapi bu apa ini enggak memberatkan Ayah dan Ibu padahal masih ada biaya pendidikan yang harus dipikrkan untuk adik." " Tentu saja tidak , kami tidak akan keberatan jika itu untuk pendidikan dan masa depanmu nanti, untuk biaya pendidikan adikmu sudah kami persiapkan, jadi tenag saja kamu hanya perlu memikirkan sekolahmu. Ayah dan Ibu tidak bisa memberikanmu harta yang melimpah tapi kami pasti akan usahakan pendidikanmu dengan baik." " Terima kasih ya Bu" lalu ku peluk Ibuku dengan erat dan ku menangis bahagia karena memiliki orang tua seperti mereka.
           Esok harinya aku terbangun ketika terdengar suara lembut yang membangunkanku , ternyata suara ibuku yang membangunkanku agar aku cepat-cepat bangun dan shalat shubuh. Aku pun segera tegakkan badan ini dan mengambil air wudhu. Dan shubuh itu kami shalat shubuh bersama. Setelah selesai shalat dan berdoa, Ayah dan ibu memanggilku untuk bicaraku. Belum kutahu apa yang ingin dibacarakan denganku. Lalu kulipat sarungku dan ku letakkan di meja. Lalu kususul Ayah dan Ibu yang menungguku di Ruang Tamu. Saat ku duduk dan memperhatikan keduanya , ayah memulai pembicaraan " Mam, ayah mau bicara soal biaya sekolah kamu.Seperti yang kamu ketahui kondisi keuangan kita sekarang sedang tidak baik. Jadi ayah putuskan untuk menjual Sepeda motormu untuk membayar uang sekolah kamu. Dan ayah juga akan menjual rumah kita yang Kos-kosan itu untuk menutup hutang kita di Bank. Ayah harap kamu bisa mengerti ini. " dengan wajahnya yang serius. Sejenak aku terdiam dan sedih karena motor kesayangaku juga akan dijual namun benar kata ayah, hanya ini yang bisa dilakukan. Lagian ini juga demi masa depanku, mungkin dengan sedikit menurunkan kemudahan hidup bisa membuatku lebih mengarti arti sebuah kerja keras.
          Dan ketika Ayah mendapatkan uang dari hasil penjualan motor, kemudian ayah langsung membayarnya untuk uang gedung sebesar 2 juta karena bisa diangsur 3 kali dan biaya yang lain. Dan hari itu aku sudah menyelesaikan semua persyaratan pendaftaran ulang. Kini tinggal bagaimana aku harus belajar giat agar aku tidak menyia-nyiakan pengorbanan yang telah Ayah dan Ibu lakukan untukku dan aku harus membuat mereka bangga kepadaku. Dan kelak saat aku sudah menjadi orang yang sukses aku akan membahagaiakan mereka berdua dan orang-orang yang kusayangi. 

         

7 komentar:

  1. keren yg cerita ending-endingnya yakin

    BalasHapus
  2. dari cerita ini paling bagus yg akhir-akhir'e

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih dek , ya semoga bermanfaat aja ya sedikit cerita dari kehidupanku :D

      Hapus
  3. haha iya mas, belom sampai ending to itu, lanjutannya tak tunggu.
    eh terus yg pesan kakak itu juga ceritamu asli mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya iya dunk
      pengarang asli " Ahmad Imam Wibowo "
      ceritanya terinspirasi sih dari kehidupanku tapi endingya yang aku ubah :D

      Hapus
  4. weijan, selamat berkarya deh, yg bagus yak :D

    BalasHapus