Yeah lega banget pas aku nyelesain unek-enek ini di
sebuah catatan yang aku namain "Diary B". Inisial B sebenernya bukan
karena nama aku bowo melainkan julukan teman-teman ke aku yaitu Brewok
yang berarti orang yang pipinya ditumbuhin bulu-bulu halus tapi bukan
itu sebenarnya yang membuat mereka memanggil ku seperti itu namun karena
ada sebuah tanda hitam di pipi sebelah kiriku. Sebuah tanda hitam yang
muncul tiba-tiba saat aku berada di kelas 6. Yah emang sesuatu yang
tidak diinginkan , tapi tak apalah ini juga harus disyukuri karena ini
juga pemberian Allah. Walaupun sering menjadi bahan ejekan itu tidak
membuatku berkecil hati apalagi sampai harus ngambek ga mau bergaul sama
temen-temen sebaya, "enggak gue banget " karena buat aku teman adalah
segalanya. Dengan memiliki seorang teman aku bisa merasakan sebuah arti
hidup.
Arti hidup untuk apa diriku di dunia ini, tentu
saja selain beribadah kepada Allah , itu ma wajib. Banyak hal yang ku
ingin lakukan, banyak hal yang harus kucapai dan tentu saja banyak hal
yang harus kuperjuangkan untuk semua itu.
Dan inilah
perjuanganku untuk hal sebuah kehidupan yang sedang aku coba usahakan
agar aku dapat mencapai semua yang aku inginkan dengan merencakan
pendidikan apa yang harus aku tempuh dan di mana aku memperolehnya. Ya
memang menyebalkan ketika seorang anak seumuranku harus memikirkan hal
seperti ini. Mencoba mengusahakan semuanya dengan usahanya sendiri
walaupun terkadang memaksakan dirinya.
Jauh sebelum
pengunguman Kelulusan SMP, aku memang sudah banyak mencari informasi
tentang beberapa sekolah favorit di daerah Semarang. Namun pada akhirnya
aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikanku ke sebuah STM ternama di
Kota Semarang. "STM PEMBANGUNAN SEMARANG" adalah tujuan baru dalam
hidupku yang harus kucapai agar aku dapat meraih apa yang aku inginkan
dalam hidupku ini menjadi orang yang sukses. Yeah menjadi orang yang
sukses dalam berbagai hal. Memag bukan sebuah mimpi yang mudah dicapai
namun aku harus mencoba dan mencapainya.
Banyak
kejadian buruk pada waktu kelas 9 namun itu bukanlah yang menciutkan
niatku untuk mencapai batu pijkan pertama menjadi orang sukses. Dan hari
kelulusanpun tiba, dimana semua anak COURSA ( Community Rakyat Sembilan
A ) dipanggil oleh Bu Rini Wali Kelas 9A untuk menerima amplop
kelulusan kami. Deg-degan ? pastilah ini sesuatu yang menentukan nasib
pendidikan ku nanti apakah aku lulus dengan baik atau tidak. Tiba
giliranku maju ke depan untuk mengambil amplop kelulusan ,perasaan takut
dan khawatir mulai datang ketika Bu Rini tersenyum sambil mengulurkan
amplop kepadaku dan berkata selamat ya "Mam" , jangan heran aku
dipanggil Imam karena waktu itu yang namanya Ahmad Imam cuma 1 di
kelasku jadi dipanggil Imam. Weits kok melencong dari cerita sebelumnya.
Mari kita lanjutkan , Perasaan senang muncul tiba-tiba ketika Bu Rini
mengucapkan selamat kepadku ini pertanda aku lulus, tinggal menengok
hasil dari kerja kerasku waktu UAN kemarin. Lalu kutinggalkan ruangan
kelas dan berjalan ke arah teman-temanku yang sudah keluar sebelumnya.
Di tempat itu, ku buka amplop yang kupegang. Dan raut muka bahagiapun
muncul saat kulihat nilaiku cukup memuaskan untuk sebuah kerja keras
yang aku lakukan. Dengan nilai jumlah nilai akhir 32,50 untuk 4 mata
pelajaran, aku rasa adalah modal pertamaku nanti untuk mendaftar di STM
PEMBANGUNAN SEMARANG.
"Hey Mam , Gimana hasil kamu ?"
dengan wajah cantiknya Amaliya bertanya kepadaku " Bagus nie , Kalau
kamu ?", "Em lumayan lah" sahutnya," Oh ya setelah ini kamu mau lanjut
ke mana Liya ?" , "Deket-deket aja soalnya ibuku ngelarang aku buat
sekolah jauh-jauh!" dengan nada sedikit kecewa, "Em ya udah syukurin aja
karena orang tua kamu udah mau nyekolahin kamu hehehehhehe " " iya "
jawabnya. Dan itu adalah hari yang membahagiakan untukku, sebuah hari
yang patut untuk dikenanng.
Haripun berganti dan hari
ini adalah hari pertama Pendaftaran Siswa Baru STM PEMBANGUNAN SEMARANG.
Akupun bersiap-siap untuk pergi ke Semarang. Ku siapkan semua
syarat-syarat pendaftaran yang sudah aku baca dan tak lupa aku masukkan
berkas pendaftaran online yang baru saja kemarin aku print out.
Jam 10.00 pagi, Aku bersama Trisno seorang teman waktu SD berangkat
bersama kedua orang tuanya ke Semarang. Di tengah perjalanan kami
berhenti di sebuah SMA Favorit di Ungaran, Trisno dan ayahnya keluar
dari mobil dan berjalan menuju SMA itu. Beberapa menit kemudian mereka
kembali dan mengabarkan pada Ibunya bahwa dia diterima di SMA itu. Namun
dia tetap ingin mendaftar di STM PEMBANGUNAN, Ayah dan ibunya pun hanya
bisa menuruti permintaan anak terakhir mereka. 1 jam kemudian kami tiba
di STM PEMBANGUNAN, kami terkejut ketika melihat antrian pendaftaran
yang panjang dari Aula besar padahal hari sudah siang.
Setelah menunggu antrian yang lama kami pun mendapatkan formulir
pendaftaran. Di formulir terebut dikatakan kami harus melewati 2 tes
yaitu kesehatan dan jasmani. Kami pun bergegas untuk mengikuti tes
kesehatan namun sayang sekali no antrian sudah habis dan kami harus
kembali besok untuk melakukannya. Karena tak ingin menyia-nyiakan waktu
yang ada kami segera ke tempat tes jasmani. Disana pun keadaannya sama
tumpukan berkas formulir pendaftaran sudah banyak. Namun kami tak akan
menyerah, dan alhasil hari ini kami pulang sore. Capek memang namun
kebahagian karena pada tes jasmani kami lulus menghilangkan semua lelah
yang ada. Dan di saat perjalan pulang kami tertidur sampai di rumah.
Hari kedua pendaftaran, hari ini aku memutuskan untuk berangkat
sendiri karena aku pikir aku tak boleh merepotkan orang lain terus
menerus. Hari ini Ibu menyewakan seorang tukang ojek untuk mengantar ku
ke Semarang. Pukul 07.00 aku berangkat, sesampainya di STM aku segera
mengambil nomor antrian untuk tes kesehatan dan di tempat itu aku juga
bertemu Trisno. Kami mengobrol dan di tengah obrolan kami, suara
handphoneku berbunyi. Ternyata ada sebuah SMS dari Ipin seorang teman
kelas 9A yang juga mendaftar di STM PEMBANGUNAN. Di pesan itu dia
bertanya " kamu dimana ? mau berangkat jam berapa di perpisahan kelas 9A
?" "Loh sekarang ta ? la aku lagi tes kesehatan di STM ? " balasku "
iya , jam 9 nanti." " Kalau gitu aku enggak ikut masih harus nunggu lama
soalnya" "Oke , sukses ya makane hari pertama berangkat pagi biar cepet
selesai hahahahahhaaha " " okek , thank you , titip salam buat
temen-temen terutama buat Amaliya". Perasaan kecewa pun mulai datang
saat penantian tes kesahatan karena hari ini aku tidak bisa ikut
perpisahan bersama teman-teman 9A. Apalagi tidak bisa bertemu dia untuk
terakhir kalinya sebelum perpisahan yang akan lama ini. Namun perasaan
kecewa itu pun mulai hilang saat aku yakin ini mungkin sebuah
pengorbanan untuk bisa menjadi sukses. Hari kedua pun usai dengan hasil
aku lulus dari tes kesehatan.
Hari ketiga aku
bersama Pamanku menunggu untuk wawancara biaya pendidikanku nanti.
Ketika berkasku di panggil dengan segera Pamanku ke tempat wawancara.
Dan tak beberapa lama kemudian dia keluar dengan perasaan tegang. Wah "
Mam uang gedungnya Paman cuma bisa nawar sampai 6 juta." " Enggak
apa-apa kok masalah biaya nanti bisa dicari yang terpenting aku bisa
sekolah disini.". Setelah wawancara selesai kami pun bergegas ke ruang
aula untuk mengumpulkan berkasku dan menggantinya dengan no peserta tes
psikotes. Dan setelah ku dapatkan No kartu tes psikotes , aku dan Paman
segera pulang.
Dan dalam perjalanan tersebut Paman
masih khawatir dengan biaya uang gedung yang dia ajukan. Dia takut jika
itu akan memberatkan keluargaku, dan beberapa kali ku yakinkan dia bahwa
itu tidak apa, itu sangat wajar apalagi STM PEMBANGUAN adalah sekolah 4
tahun yang pastilah membutuhkan biaya yang besar.
Dan sesampainya di rumah aku segera memberitahu ibuku tentang hal itu
dan ibuku pun menanggapinya dengan biasa. Dan hari itu aku habiskan
waktuku pergi bermain ke rumah Trisno, sesampainya di rumahnya. Kulihat
tidak ada seorang pun disana lalu aku pulang dan ketika meliwati rumah
salah seorang teman desa aku melihat Trisno disana. Segera kuhampiri dia
dan bertanya " Gimana Tris kamu udah ngumpulin berkas kamu ?" tanyaku "
Wah aku enggak jadi ke STM , aku di SMA." " Loh kenapa ?" tanyaku
terheran-heran padahal ku tahu dia sangat ingin sekolah di STM, " Aku
takut nem ku enggak nyampai di sana lagian aku juga udah diterima di
SMA." jawabnya " Oh ya udah.". Dan saat perjalan pulang aku pun ters
kepikiran dengan apa yang Trisno bilang ke aku. Bagaimana tidak , Nem
Trisno dan aku sama , kami sama-sama mempunyai nem sekitar 32 dan
memilih jurusan yang sama pula.
Namun dengan hati
yang penuh semangat aku terus menyemati diriku bahwa aku pasti bisa
masuk ke STM PEMBANGUNAN , aku pasti bisa melewati tes itu dan aku pasti
berhasil. Satu hari sebelum tes Ipin memberitahuku agar aku menukar
kartu no peserta yang diberikan oleh panitia kemarin dengan kartu tes
psikotes yang telah disediakan oleh Panitia pendaftaran dan saat itupun
juga aku segera berangkat ke Semarang dan kali ini aku bersama seorang
kawan bernama Surya, dia juga teman SMPku dan dia juga mendaftar di STM
PEMBANGUNAN. Dengan sepeda motorku aku berangkat dari rumah pukul 9 pagi
dan tiba disana pukul 10. Sesampainya disana kulihat Ipin yang ternyata
sudah mendapatkan kartu tesnya. Dan dia berpamitan kepada kami untuk
pulang.
Setelah menunggu beberapa jam tiba-tiba
kudengar " Ahmad Imam.............." dan ku berdiri tapi sebelum sempat
kulangkahkan kaki ini terdengar lagi " Ahmad Imam Nugraha". Dengan
segera aku duduk kembali dan menahan malu ketika mendengar Surya
menertawakanku dan dalam hati aku pun bepikir bagaimana bisa di dunia
ini ada orang yang nama depannya sama denganku , cuma bedanya aku Wibowo
dan dia Nugraha. Dan setelah sekian lama menunggu akhirnya namaku
disebut dengan lengkap dan akupun segera lari ke meja panitia untuk
menukarkan kartu tes. Dan tak beberapa lama kulihat Surya menyusul dan
berada disebelah mejaku. Setelah kami berdua mendapatkan kartu tes kami
pun memutuskan untuk segera pulang untuk mengisirahatkan badan dan
pikiran untuk Tes Psikotes esok harinya.
Pagi ini
sungguh mendebarkan, ketika menunggu detik-detik saat Tes yang akan
segera di mulai. Kurasakan jantung terus berdebar kencang namun sesekali
ku tarik nafas panjang untuk memperlambat detak jantung itu dan
yakinkan aku bisa melewati Tes tersebut. Berapa detik setelah bel
berbunyi, Pengawas Tes mulai menyuruh kami untuk membalik soal yang
sudah tersedia dan mengerjakannya dengan waktu 30 menit untuk Matematika
dan Fisika. Kukerjakan semua soal itu dengan semampuku dan ketika
kusadari waktu telah habis, hanya tinggal 2 soal yang belum terisi. Dan
kuputuskan untuk tidak mengerjakannya karena aku takut jika aku
mengarang jawabannya dan salah , bisa mengurangi nilai yang bisa aku
kerjakan.
Setelah semua terkumpul , segera pengawas
membagikan kepada kami sebuah lembar kertas dan buku soal psikotes.
Ketika pengawas melihat semua peserta tes telah mendapatkan itu, segera
dia memberi kami perintah untuk mengerjakannya. Setelah ku baca beberapa
soal yang ada, ternyata sama dengan soal psikotes yang pernah aku
kerjakan dulu ketika SMP dan dengan yakin kukerjakan semua soal itu.
Saat semua sudah selesai mengerjakan dan dikumpulkan. Pengawas
membagikan 1 lembar kertas HVS yang bergambar beberapa 8 kotak dan di
dalamnua ada garis , titik , dll dan 2 lembar kertas gambar yang masih
kosong.
Pada kertas HVS, pengawas memerintahkan kepada
kami untuk meneruskan titik atau garis tersebut menjadi sebuah sebuah
gambar benda sesuai imajinasi kami. Sedangkan untuk kedua kertas gambar
yang masih kosong tadi kami harus mengambar sebuah pohon dan manusia.
Dan saat semua gambar sudah kuselesaikan, ku istirahatakan diriku di
kursi sambil nunggu temen-temen yang lain masih sibuk sama gambarnya.
Dan saat pengawas mengumpulkan semua gambar kami. Dia pun memberi waktu
kepada kami untuk mengistirahat pikiran kami beberapa menit agar pikiran
kami fresh kembali untuk tes yang terakhir yang kami masih belum tahu
apa itu. Setelah beberapa menit itu selesai, pengawas kembali memberikan
kami sebuah kertas yang berisikan angka-angka. Dan Pengawas pun
menjelaskan kepada kami, untuk menjumlahkan angka-angka itu secara
vertikal dari bawah ke atas. Dan menuliskan hasil penjumlahan terebut di
samping antara angka pertama dan kedua. Dan kami hanya memiliki waktu
30 detik untuk setiap kolom angka dan kami harus ganti kolom setiap
pengawas bilang ganti. Setelah pengawas memastikan semua peserta
mengerti. Pengawas pun memulai memerintahkan kami untuk mengerjakan tes
tersebut dan setiap 30 detik pengawas slalu bilang ganti hingga kolom
terakhir. Dan es hari itu selesai juga dengan perasaan lega dan yakin
bahwa aku akan masuk ke dalam daftar 540 murid baru STEMBA (STM
PEMBANGUNAN , kenapa enggak aku singkat dari dulu ya , hmmmmmmmmmmm).
Dan beberapa hari kemudian, pengunguman hasil seleksi penerimaan siswa
baru STEMBA tahun 2009/2010 akan diumumkan pukul 8 pagi. Aku pun
bersiap-siap untuk ke Semarang untuk melihat hasil apa yang telah aku
usahakan semaksimalku. Pukul 7 pagi , tiba-tiba Ipin menelponku dengan
nada bahagia dia mengatakan "Wok, kita lolos , kita masuk STEMBA." dan
seketika itu aku bahagia, aku sangat bahagia dan berkata " Alhamdulillah
Ya Allah, Atas anugrah yang telah Engkau beriikan kepada hamba." dan
aku pun mengucapakan terima kasih kepada Ipin dan mengabarinya bahwa aku
akan berangkat ke Semarang. Dan segera aku menutup telpon dan bersama
Ayah,aku berangkat ke Semarang. Setibanya di sana aku mencari Ipin dan
bertanya bagaimana dengan teman-teman yang lain, dia mengatakan kalau
Fredy , Iksan dan Tachul juga lolos namun ketika aku bertanya bagaimana
dengan Surya. Dengan lesu dia mengatakan bahwa Surya tidak lolos.
Dia juga sudah memberitahu Surya akan hal itu agar Surya dapat mencari
sekolah yang lain. Setelah itu kami pun bergegas ke tempat panitia
pendaftaran ulang untuk siswa yang lolos. Kami mengambil berkas yang
harus kami lengkapi dan beberapa persyaratan administrasi yang harus
kami bayar. Dan setelah mendapatkan berkas itu , kami pulang.
Sesampainya di rumah aku segera melengkapai berkas tersebut. Namun
ketika melihat biaya yang harus orang tuaku bayarkan aku sedikit bingung
dengan keadaan keuangan kami yang memburuk belakangan ini karena
masalah yang sedang dihadapi oleh Ayah sehingga Ayah harus bekerja keras
untuk mengembalikan keadaan keuangan kami menjadi lebih baik lagi.
Sehingga itulah yang menjadi alasan kenapa bukan Ayah yang mendampingiku
ketika aku mendaftar sekolah , melakukan wawancara orang tua dan tes.
Namun itu tidak membuatku membencinya, aku bangga kepadanya karena Ayah
berjuang demi keluarganya agar keluarganya hidup dengan layak. Ayah dan
Ibu memang dua orang yang menginspirasiku agar menjadi orang yang
berjuang keras dan tekun untuk menggapai cita-citaku. Dan untukku mereka
aku akan berjuang keras untuk menjadi orang sukses , agar bisa
membahagiakan mereka di hari tua mereka. Dan tak kusadari air mata mulai
menetes jika meningat hal itu.
Tiba-tiba pintu
kamarpun terbuka , dan kulihata Ibu datang membawakanku secangkir teh. "
Ini tehnya, diminum selagi hangat ( meletakkan di meja) , oh ya
bagaimana dengan berkas-berkas pendaftarannya, sudah kamu lengkapi"
tanya ibuku ," sudah semua Bu " jawabku ," Terus apa yang kurang ?"
tanyanya lagi , " Tinggal mengurus biaya administrasi Bu. Seperti Uang
gedung ,SPP dan lain-lainnya." " Lalu berapa jumlahnya?"tanyanya lagi "
Uang gedungnya 6 Juta sedangkan SPP 135 ribu dan untuk biaya seragama
dan lain lain sekitar 540 ribu." " Oh ya sudah nanti Ibu bilang ke Ayah,
biar ayah mencarikannya." " Tapi bu apa ini enggak memberatkan Ayah dan
Ibu padahal masih ada biaya pendidikan yang harus dipikrkan untuk
adik." " Tentu saja tidak , kami tidak akan keberatan jika itu untuk
pendidikan dan masa depanmu nanti, untuk biaya pendidikan adikmu sudah
kami persiapkan, jadi tenag saja kamu hanya perlu memikirkan sekolahmu.
Ayah dan Ibu tidak bisa memberikanmu harta yang melimpah tapi kami pasti
akan usahakan pendidikanmu dengan baik." " Terima kasih ya Bu" lalu ku
peluk Ibuku dengan erat dan ku menangis bahagia karena memiliki orang
tua seperti mereka.
Esok harinya aku terbangun ketika
terdengar suara lembut yang membangunkanku , ternyata suara ibuku yang
membangunkanku agar aku cepat-cepat bangun dan shalat shubuh. Aku pun
segera tegakkan badan ini dan mengambil air wudhu. Dan shubuh itu kami
shalat shubuh bersama. Setelah selesai shalat dan berdoa, Ayah dan ibu
memanggilku untuk bicaraku. Belum kutahu apa yang ingin dibacarakan
denganku. Lalu kulipat sarungku dan ku letakkan di meja. Lalu kususul
Ayah dan Ibu yang menungguku di Ruang Tamu. Saat ku duduk dan
memperhatikan keduanya , ayah memulai pembicaraan " Mam, ayah mau bicara
soal biaya sekolah kamu.Seperti yang kamu ketahui kondisi keuangan kita
sekarang sedang tidak baik. Jadi ayah putuskan untuk menjual Sepeda
motormu untuk membayar uang sekolah kamu. Dan ayah juga akan menjual
rumah kita yang Kos-kosan itu untuk menutup hutang kita di Bank. Ayah
harap kamu bisa mengerti ini. " dengan wajahnya yang serius. Sejenak aku
terdiam dan sedih karena motor kesayangaku juga akan dijual namun benar
kata ayah, hanya ini yang bisa dilakukan. Lagian ini juga demi masa
depanku, mungkin dengan sedikit menurunkan kemudahan hidup bisa
membuatku lebih mengarti arti sebuah kerja keras.
Dan
ketika Ayah mendapatkan uang dari hasil penjualan motor, kemudian ayah
langsung membayarnya untuk uang gedung sebesar 2 juta karena bisa
diangsur 3 kali dan biaya yang lain. Dan hari itu aku sudah
menyelesaikan semua persyaratan pendaftaran ulang. Kini tinggal
bagaimana aku harus belajar giat agar aku tidak menyia-nyiakan
pengorbanan yang telah Ayah dan Ibu lakukan untukku dan aku harus membuat mereka
bangga kepadaku. Dan kelak saat aku sudah menjadi orang yang sukses aku akan membahagaiakan mereka berdua dan orang-orang yang kusayangi.
keren yg cerita ending-endingnya yakin
BalasHapusmaksdunya dek ?
Hapusdari cerita ini paling bagus yg akhir-akhir'e
BalasHapusterima kasih dek , ya semoga bermanfaat aja ya sedikit cerita dari kehidupanku :D
Hapushaha iya mas, belom sampai ending to itu, lanjutannya tak tunggu.
BalasHapuseh terus yg pesan kakak itu juga ceritamu asli mas?
Ya iya dunk
Hapuspengarang asli " Ahmad Imam Wibowo "
ceritanya terinspirasi sih dari kehidupanku tapi endingya yang aku ubah :D
weijan, selamat berkarya deh, yg bagus yak :D
BalasHapus