Assalamualaikum kawan :D selamat membaca :D
Menangis mungkin bukan hal yang memalukan, aku sendiri pun sering menangis ketika membaca sebuah pesan dari Kakakku yang berisikan " Anak Ibu cuma aku sama kamu. Iya kalau umur aku panjang tapi bagaimana jika Allah berkehendak lain , tiba-tiba besok aku udah enggak ada. Terus siapa yang bakalan bahagiain ibu kita. Sukses bukanlah hal yang mudah untuk dicapai. Tolong berubah , bukan untuk aku tapi untuk kamu dan ibu. Aku sayang kamu dan kami sekeluargapun sayang kamu Adikku."
Pagi itu seperti hari-hari biasa bangun siang dan ku lihat HP ku yang penuh dengan pesan dari pacarku. Lalu terdengar suara Kakakku seperti biasanya dia mengomel tanpa henti di depan kamaku, membuatku kesal. Membuat hidup ini jenuh dengan omelan walaupun demi kebaikanku namun jika perkataan itu dari mulutnya membuatku semakin membencinya.
Mengingat dia merebut segalanya dariku, perhatian kedua orang tua dan semua keluargaku. Dia slalu menjadi anak emas di keluarga ini. Hingga aku seperti orang yang menumpang di keluarga ini. "Huft" terkadang aku ingin pergi dari keluarga ini, hidup bebas dan mencari kebahagianku sendiri.
Namun slalu ada yang menahanku, perasaan ibulah yang slalu membuatku bertahan dengan keadaan ini. Aku takut jika aku pergi maka aku akan menyakiti hatinya. Menyakiti seseorang yang telah melahirkan dan merawatku dengan kasih sayang.
Saat kulihat jam dinding tepat jam 10 , ku bangunkan badan ini dari kasur dan menuju kamar mandi. Saat ku keluar, terlihat kakakku yang sedang membersihkan dapur dan seperti biasanya aku slalu menganggap itu sebagai trik dia untuk kelihatan baik di depan kedua orang tuaku. Dan semakin menambah kebencianku kepadanya.
Dan kuputuskan hari ini aku akan pergi main ketempat pacar. Dan saat kulihat jam di tanganku kulihat jarum jam sudah menunjukkan pukul 7 malam dan tak terasa seharian ini aku menghabiskan waktu bersama seseorang yang aku cintai dan seseorang yang bisa menghargai aku di dalam kehidupannya. Aku pun berpamitan kepadanya dan berjalan menuju motorku dan segera ku tancap gasku untuk pulang. Setibanya di rumah seperti sudah kuduga , omelan pun datang. Kali ini datang dari Ayahku dan beberapa menit kuhabiskan waktuku untuk mendengarkan omelannya. Setelah selesai, segera aku menuju kamar dan ku baringkan tubuh yang lelah ini. Namun belum sempat ku pejamkan mata ini, terdengar suara dari hanphoneku dan kulihat sebuah pesan dari temanku. " Wo,tak tunggu di kucingan" dan segera iyakan itu. Saat kubuka pintu kamarku , kulihat semua kelurgaku berkumpul , Ayah , Ibu dan Kakakku yang sedang menonton TV terlihat mereka bahagia tanpa adanya aku.
Saat ku melangkah keluar dari kamarku , Ayah memanggilku " Mau ke mana kamu sudah malam" "Mau ke kucingan" sahutku " Kamu itu kerjanya main terus , contoh kakakmu yang slalu nurut sama orang tua" dengan nada sedikit emosi. Sontak aku pun kesal dengan sikap Ayah yang slalu membanding-bandingkanku dengan kakakku. Slalu saja dia dan dia."Sudah -sudah tidak baik membading-bandingkan anak sendiri" sahut Ibu yang berusaha menenangka suasana. " Yang bukannyabeitu Bu tapi ini kan sudah malam seharusnya dia itu tidak keluar malam-malam, apalagi dengan motor, Ayah cuma takut kalau nanti di jalan dia kenapa-napa. Lagian daerah ini juga sepi kalau malam hari. Nanti siapa yang akan menolongnya kalau terjadi sesuatu dengan motornya" kata Ayah dan seketika aku marah ketika seorang ayah mengkhawatirkan motornya daripada anaknya. Dan segera ku ambil motor dan pergi dari rumah.
Perasaan kecewa dan marah mulai mengrogoti diriku. Dan ku buat sebuah statsus di akun Facebooku " Dasar orang tua tak punya perasaan, lebih mentingin harta daripada anaknya #gouk". Beberapa detik setelah ku update status itu, ada sebuah komentar yang ternyata dari kakakku. Kulihat komentar itu " Kamu juga sama lebih mentingin kesenangan kamu daripada bikin lega orang tua, mungkin tadi ayah salah ngomong. Lagian juga kamu bikin Ayah emosi , cepet pulang.". Setelah kubaca komentar itu tak kuhiraukan satupun omongan dia.
Hingga datang sebuah pesan dari Kakakku " Anak Ibu cuma aku sama kamu. Iya kalau umur aku panjang tapi bagaimana
jika Allah berkehendak lain , tiba-tiba besok aku udah enggak ada.
Terus siapa yang bakalan bahagiain ibu kita. Sukses bukanlah hal yang
mudah untuk dicapai. Tolong berubah , bukan untuk aku tapi untuk kamu
dan ibu. Aku sayang kamu dan kami sekeluargapun sayang kamu Adikku."
Namun tak kuhiraukan lagi omongan dia dan kuputuskan malam itu untuk tidur di rumah seorang temanku. Mentari pagi pun menyambutku , menerangi wajahku dan membangunkanku dari tidurku. Saat kulihat jam dinding, ternyata sudah pukul 8 pagi. Kuputuskan untuk pulang dan berpamitan kepada temanku. Setibanya di depan gang depan rumahku terliat bendera kuning menandakan ada orang yang meninggal di kampungku dan saat ku tiba di depan rumah. Aku kaget saat melihat kerumunan orang di depan rumahku dan memakai baju berwana hitam. Dan saat aku masuk ke rumah kulihat di sana terbaring Kakakku yang sudah meninggal.Aku pun tak bisa berkata-kata dan saat tak ku dasari , air mata sudah mengalir dari mataku. Aku melihat kedua orang tuaku menagis melihat anak kebanggan mereka sudah tak bernyawa lagi. Aku melihat beberapa keluarga dan teman-teman kakakku menangisnya.
Aku tak tahu apa yang seang aku rasakan, namun aku tahu aku menyesal , aku menyesal tidak mendengarkannya dan saat kesadaranku mulai hilang aku terjatuh dan tak ingat apapun. Hingga saat ku terbangun aku lihat Ibu yang ada disampingku, dan kulihat dia masih menangis. Dan saat dia tahu aku sudah terbangun. Dia menanyakan keadaanku " Bagaimana keadaanmu ?" sambil menahan tangisnya " aku baik-baik aja kok Bu." dan kucoba membangunkan badanku. Dan aku bertanya " Kenapa dengan Kakak Bu ? kenapa bisa dia meninggal ?" masih tak percaya dengan yang kulihat. " Dia tadi malam mencari kamu ( sambil menangis) namun ketika dia mencarimu dia dirampok dan dibunuh." ceritanya. Dan sontak aku pun menangis , aku merasa bersalah karena akulah penyebab kematian saudaraku. Saudara yang selama ini memperhatikanku namun aku malah membencinya. Dan karna ku juga dia mati. Perasaan menyesal tak bisa ku hapuskan dari hidupku. Dan hanya doa yang slalu kupanjatkan untuknya dan aku slalu menangis ketika mengingatnya.
semoga cerpen ini bermanfaat buat kalian Blogger kalau jangan pernah menghiraukan perhatian atau kasih dari seseorang , mungkin seseorang yang slalu mengomel kepada kalian sebenarnya adalah seseorang yang sangat memperhatikan kalian. Bersikaplah peka terhadap keadaan yang ada di sekitar kalian
Wassalamualaikum :D
Best Regards
Ahmad Imam Wibowo
bowo serius ini ?
BalasHapusInnalillahi wa inna ilaihi raji'un, ini peringatan buat kamu bowo,
jdi anak baik ya
enggak kok sept cuma cerpen, ya emang sih ada hubungannya sama kehidupan aku tapi aku olah lagi ya seenggaknya ada sebuah pelajaran di dalam cerita pendek yang aku buat heheheh begitu maksudnya :D
Hapus